BLOGGER TEMPLATES AND Zwinky Layouts »

Jumat, 22 Agustus 2014

PPSh 41: Soviet Shock Weapon on Eastern Front



Submachine gun populer di masa perang dunia 2 karena ringan dan dan bisa menembak dengan volume yang besar. Bentuk senjata ini memang jelek, tapi sangat efektif dan praktis. Senjata ini juga akhirnya digunakan oleh sekutu Soviet pada masa awal perang dingin. PPSh 41 (Pistolyet Pulemyot Shpagina). Enjoy!





Name: PPSh 41
Type: Submachine Gun
Asal :Uni Soviet
Periode Pemakaian: 1941-1960 (Soviet)
Designer: Georgi Shpagin
Kaliber: 7.62x25mm Tokarev
Panjang: 84.3cm
Berat: 3.6kg
Kapasitas Magasin: 71, 35(dalam magasin kotak)
Rate of Fire: 900-1,000 Peluru/menit
Jarak Efektif: ~150m

The Idea and Predeccessor
 Uni Soviet memang menjadi salah satu negara yang terlambat mengembangkan submachine gun. Banyak yang meyakini bahwa inspirasi mereka tentang submachine gun berawal ketika berperang dengan Finlandia pada tahun 1939-1940. Senjata otomatis milik Soviet saat itu adalah: PM M1910, DP 28, dan Fedorov Avtomat. PM M1910 terlalu berat untuk dibawa-bawa dan menjadi support weapon. DP 28 memiliki rate of fire yang lambat (550 rpm). Dan Fedorov Avtomat tidak bisa dikontrol saat settingan otomatis dan jumlahnya sangat terbatas.

PM M1910

DP28

Fedorov Avtomat

Sementara itu, Finlandia punya KP/-31 singkatan dari KonePistooli 31 (Pistol Mesin 31).
Prajurit ski Finlandia membawa KP/31


 Tentara Finlandia saat itu menerapkan taktik serbu cepat dan KP/-31 menjadi senjata yang ideal. Okay, Finlandia kalah, namun Uni Soviet kehilangan 85,000 prajurit dan 186,000 terluka. Long story short, Uni Soviet mencoba untuk meniru dan mengembangkan submachine gun mereka lebih jauh.

Sebenarnya Soviet sudah punya submachine gun dengan nama PPD 40 yang dirancang oleh Vasiliy Degtyarov. Dirancang pada tahun 1934 dengan mencontoh desain MP18 Jerman. Sayangnya, sedikit sekali PPD yang diproduksi karena prosesnya kompleks dan memakan banyak waktu (~13 jam). PPD 40 umumnya digunakan oleh NKVD dan beberapa pasukan polisi khusus di Soviet.

PPD-40


Production and Features

Georgi Shpagin, perancang PPSh-41

PPSh-41 dikembangkan oleh Geogiy Shpagin dan menjadi standard issue untuk prajurit serbu (shock troops) pada tahun 1941. PPSh-41 mudah diproduksi secara massal dan cepat, Apa sih rahasianya sehingga PPSh-41 bisa diproduksi dengan cepat?Sementara PPD 40 komponennya dibuat dengan machining/ dibentuk dengan bantuan alat mesin dan tenaga ahli (bor, gerinda, gergaji, PPSh-41 diproduksi menggunakan metode stamping. Apaan tuh metode stamping? Metode stamping adalah metode pembuatan komponen-komponen benda dengan memukul lembaran logam panas ke dalam cetakan.Produksi PPSh-41 juga sangat cepat, kurang lebih 3,000 PPSh dapat diproduksi dalam sehari.

Animasi tentang metode stamping... kurang lebih ya begini :)


Metode stamping ini mengurangi jam pembuatan (memerlukan 5-7 jam). Dan karena proses pembentukkan komponen dilakukan sepenuhnya oleh mesin, maka pembuatan PPSh-41 tidak memerlukan tenaga ahli yang kemudian dapat dialokasikan untuk produksi senjata lain. Bahkan proses pembuatan PPSh dilakukan di bengkel atau perusahaan lain seperti perusahaan mobil (FYI, konsep ini juga diterapkan ke M3 SMG Amerika dan STEN Inggris).


Fitur PPSh sebagian besar mirip dengan pendahulunya, PPD 40. Popor kayu, tidak ada pistol grip dan bentuk barrelnya juga mirip. Kalo gitu, selain metode stamping ga ada yang baru dong dari PPSh? Engga juga... bagian barrel PPSh dilapisi chromium sehingga bisa lebih anti karat dan bisa digunakan tanpa terlalu sering dibersihkan. Pada selubung barrel (yang kotak dan bolong-bolong) dibuat juga compensator (muzzle brake) agar lebih mudah dikontrol dalam tembakan otomatis. Bagian receiver (ruang untuk mekanisme senjata) diberikan engsel agar mudah dibongkar untuk pembersihan. Sebagai "replika" dari Suomi KP/-31, PPSh 41 menggunakan magasin drum dengan kapasitas 71 peluru dan magasin stick dengan 35 peluru beberapa bulan kemudian

PPSh dengan engsel receiver yang terbuka

The Awesomeness
PPSh 41 punya beberapa kelebihan sebagai submachine gun yang populer. Rate of Fire PPSh yang besar (~1,000 peluru per menit) membuat PPSh efektif dalam pertempuran jarak dekat. PPSh juga mudah dibersihkan dan tahan banting seperti senjata Rusia pada umumnya. And the best part... senjata ini murah, materinya mudah didapat dan produksinya cepat.

The Flaw
Tadi di atas saya menulis kalau PPSh itu punya rate of fire yang tinggi. Yeah, itu tadi juga merupakan kelemahannya. PPSh merupakan senjata yang hanya ditembakkan dalam keadaan otomatis (no select fire) dan penembakkan secara membabi buta akan menghabiskan peluru dengan cepat, sehingga sangan tidak efektif untuk pertempuran jarak jauh.  Compensator PPSh memang membuat submachine gun ini lebih mudah dikontrol, namun PPSh 41 memiliki muzzle flash yang besar dan tidak ideal buat orang yang menembak diam-diam. Dan magasin drumnya mudah penyok karena tebalnya hanya 0.5mm (versi terakhir menjadi 1mm dan lebih kuat) dan lambat untuk diisi ulang (well, masukin 71 peluru kedalam magasin itu tidak mudah lho). Magasin stik pun dibuat dan lebih disukai karena bisa dijadikan front grip oleh prajurit.



Operation
PPSh 41 menjadi senjata standar shock troops (pasukan serbu) tentara merah saat front timur perang dunia2. Bahkan beberapa divisi angkatan bersenjata tentara merah akhirnya menggunakan PPSh-41 ketimbang senapan mosin-nagant. Penyebabnya adalah karena rifle memerlukan latihan selama beberapa minggu/ bulan agar bisa menembak dengan sempurna. Sementara submachine gun dapat digunakan oleh orang yang tidak terlatih menggunakan senjata. FYI, perlengkapan standar buat shock troops tentara merah adalah: bom molotov, PPSh 41 dengan magasin drum dan 2x magasin stik dengan 35 peluru.

Tentara merah di front timur, membawa PPSh-41


Wermacht Jerman juga tertarik dengan PSSh-41 karena rate of firenya lebih tinggi dibandingkan submachine gun mereka. Jerman membuat program agar PPSh yang berhasil diambil agar kaliber larasnya diubah menjadi 9mm parabellum. PPSh yang tidak dikonversi untuk menembak kaliber 9mm parabellum pun diberikan supply peluru 7.63x25mm Mauser ( amunisi pistol Mauser C96) karena kalibernya paling mendekati.

Wermacht dengan PPSh-41 (notice the barrel there :))


Setelah perang dunia 2, PPSh 41 juga digunakan dalam Perang Korea (Korea Utara vs Korea Selatan) oleh tentara rakyat korea dan tentara rakyat tiongkok(People Liberation Army). Soviet memberikan lisensi produksi PPSh 41 ke Korea Utara dan Tiongkok. Versi Korea Utara (Type 49) hanya mampu menggunakan magasin drum dan versi Tiongkok (Type 50) hanya mampu menggunakan magasin stik.PPSh 41 sudah tidak digunakan lagi oleh pihak militer, namun masih populer di kalangan gerakan paramiliter dan kalangan sipil.

Extra: PPS-43 (Pistolet Pulemyot Sudayeva)
Sebenarnya Uni Soviet berencana untuk menggantikan PPSh dengan submachine gun lain yang lebih cepat diproduksi namun memiliki keefektifan yang sama. Bodi dan komponen PPS 43 (didesain oleh Alexei Sudayev) semuanya terbuat dari logam dan dapat diproduksi dalam waktu maksimal 3 jam. Uji coba senjata ini adalah saat serangan Jerman ke Leningrad. Ribuan PPS-43 yang baru keluar dari pabrik langsung digunakan oleh tentara merah untuk membalas serangan Jerman. Tentara merah juga menyukai senjata ini karena sama efektifnya dengan PPSh-41 dan lebih mudah dikontrol dengan rate of fire yang lebih kecil (500-600 peluru/ menit). Sayangnya PPS-43 tidak menjadi standard issue tentara merah saat perang dunia 2 karena PPSh-41 sudah sangat banyak diproduksi saat itu. 2 juta PPS 43 yang diproduksi digunakan oleh kru kendaraan dan angkatan laut tentara merah. Setelah perang dunia 2, sebagian PPS-43 diadopsi oleh Polandia sebagai submachine gun mereka.

PPS-43


Hope you guys enjoyed the article!
Cheers!


Tidak ada komentar:

Posting Komentar